Kamis, 10 Mei 2012

Feng Shui untuk Rumah Sehat


Sering uring-uringan, merasa tidak enak badan atau sumpek di rumah karena alasan tidak jelas? Coba cek, jangan-jangan ada yang salah dengan tata letak atau ruang di rumah Anda. Menurut ilmu feng shui, tata ruang yang kurang pas dapat membawa energi buruk bagi penghuninya. Konsultan feng shui, Jenie Kumala Dewi, dan pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, Ph.D., M.Sc., membantu mengulasnya untuk Anda.

MENGALIHKAN ENERGI KOTOR
Secara harfiah, feng berarti angin, dan shui berarti air. Kearifan dari negeri Tirai Bambu ini dipercaya mampu membangun keharmonisan antara langit dan bumi demi mendapat kebajikan hidup (Qi). Masyarakat Cina percaya, Qi dibawa dan disebarkan oleh angin (feng), atau mengalir bersama air (shui). Oleh sebab itu, menurut Jenie, rumah yang sehat adalah rumah yang memiliki sirkulasi udara dan saluran air yang baik.
“Inti dari ajaran feng shui adalah keseimbangan. Artinya, tiap ruang harus ditata sedemikian rupa supaya tidak jomplang antara yin dan yang,” ujar presenter acara Balancing Life di salah satu saluran televisi swasta ini. Ruang yang paling penting di rumah menurut feng shui adalah kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sebab, di ruangan inilah kita paling sering melakukan aktivitas.

Rata-rata, setiap harinya orang akan berdiam di kamar selama 7-8 jam, baik untuk tidur ataupun melakukan aktivitas lain. Waktu yang cukup lama ini membuat orang dapat terekspos oleh berbagai macam energi. “Yang ditakutkan adalah kalau orang terkena energi kotor di saat terlelap. Akibatnya, badan bisa mudah terserang penyakit,” ujar Jenie.

Energi kotor yang dimaksud Jenie adalah aliran udara dan air kotor dari ruangan servis, seperti dapur dan kamar mandi. Oleh sebab itu, saluran pembuangan air tidak boleh dibuat menyeberangi bagian tengah rumah, tapi harus mengitari pinggir rumah,” tegasnya.

Budi sependapat karena dua alasan. Yang pertama untuk alasan kepraktisan. Seandainya saluran air itu rusak atau tersumbat, untuk membetulkannya kita tidak perlu membongkar lantai di dalam rumah. Yang kedua untuk alasan kesehatan. Arus air memiliki medan magnet yang dapat mengacaukan peredaran darah. Efeknya memang tidak langsung terasa. Tapi, mereka yang kamar atau tempat tidurnya berada persis di atas sumber air cenderung mengalami gangguan peredaran darah. “Kalau dibiarkan selama bertahun-tahun, gangguan ini dapat berubah menjadi kanker,” ujar Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, itu.

Dapur, meski dianggap ‘jantung’ rumah, posisinya tak boleh di tengah. Sebab, energi kotor, berupa asap kompor atau uap aroma makanan akan mengalir ke seluruh penjuru rumah. “Sedapat mungkin, letakkan dapur dan kamar mandi di bagian belakang dan tidak terlalu kelihatan,” ujar Jenie. Kompor sebagai pusat dari dapur posisinya tidak boleh persis di depan pintu. Peletakan ini akan membuat posisi pemasak terekspos energi dari luar dapur (angin, debu) yang masuk melalui pintu.

Karena adanya aliran energi kotor, kamar mandi dan dapur sebaiknya tidak persis di bawah atau di atas kamar tidur. Kamar mandi juga tak menjadi satu bagian dengan kamar tidur. Menurut Budi, kamar mandi dan dapur yang sifatnya lembap dapat ‘menularkan’ berbagai kuman, bakteri, atau virus ke ruangan sekitarnya. Khususnya di saat ruangan lembap udara mengandung uap air cukup tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pernapasan seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), bronkitis, dan asma.

MENJAGA YIN & YANG
Rumah yang menaati aturan feng shui didesain sedemikian rupa sehingga angin dapat berembus ke seluruh penjuru rumah. Karena itu, ruang tertutup tak boleh berada di tengah rumah, karena akan menghalangi angin dan sinar matahari yang berakibat rumah jadi pengap. Sama halnya dengan tiang, kolom, atau pilar, kalau diletakkan di tengah rumah dapat mengganggu perkembangan penghuninya. “Ruang keluarga atau ruang tamu terbuka ideal di tengah rumah,” tambah Jenie.

Sirkulasi udara atau angin sangat penting diperhatikan dalam merancang ruangan. Menurut Jenie, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan. Misalnya, membuat ruangan dengan dua pintu yang berseberangan langsung. Angin yang masuk dari satu pintu akan langsung keluar menuju pintu satunya, sehingga tidak sempat bersirkulasi di dalam ruangan. Demikian pula dengan tangga, yaitu tempat pertemuan sirkulasi udara antara dua lantai. “Tangga tidak boleh diletakkan di bagian depan rumah. Karena, udara yang berembus melintasi tangga dapat langsung mengarah ke lantai atas tanpa sempat masuk ke dalam rumah,” jelas Jenie.

Ruangan yang ideal menurut feng shui memiliki empat sisi, tidak kurang tidak lebih. Hal ini penting, terutama diterapkan pada kamar tidur. Satu sisi untuk pintu, satu sisi di seberangnya untuk jendela. “Lebih ideal lagi kalau pintu dan jendela berseberangan secara diagonal, tidak sejajar lurus. Supaya angin yang masuk dari pintu tidak langsung keluar jendela, atau sebaliknya,” tambah Jenie. Dua sisi lainnya dimanfaatkan untuk menempelkan perabot seperti tempat tidur atau lemari. “Perabot sebaiknya menempel dinding supaya kokoh, tidak mudah goyah,” ujar Jenie.

Sisi untuk jendela dan pintu dalam feng shui disebut sisi yang (bergerak, karena ada bukaan tempat masuknya angin), sedangkan sisi untuk perabot disebut sisi yin (diam). Keseimbangan yin dan yang ini dapat diterapkan di semua ruangan rumah. Misalnya, dengan tidak merapatkan perabot ke dinding yang berpintu atau berjendela. “Sangat tidak disarankan untuk merapatkan sandaran kepala tempat tidur di bawah jendela atau di dekat pintu,” tegas Jenie.

Ventilasi yang memadai juga salah satu faktor penting dalam menciptakan rumah sehat. “Konsepnya sederhana. Udara bersih dari luar harus dapat berembus masuk untuk mengeluarkan udara kotor (CO2) yang dihasilkan oleh penghuni rumah,” ujar Budi. Ia menambahkan, ada baiknya setiap rumah memiliki lahan hijau dengan pohon-pohon yang dapat menghasilkan O2 atau oksigen. Sedapat mungkin jendela dibuat, supaya sinar matahari dapat masuk ke setiap ruangan untuk membunuh kuman dan bakteri.

MENGALIRKAN ENERGI POSITIF
Menurut Jenie, isi ruangan (penghuni dan perabot) harus seimbang dengan volume ruangan. “Punya banyak barang dan berantakan tidak masalah. Asal, ruangan tidak terasa sesak, dan barang-barang yang ada tidak menghalangi angin yang masuk,” jelas Jenie.

Sedapat mungkin, ruangan-ruangan di dalam rumah selalu atau sering dipakai oleh penghuninya. “Angin yang dihasilkan dari gerakan atau aktivitas penghuni dapat menghasilkan energi positif,” tambahnya. Ruangan yang jarang dipakai, perabotnya cenderung ditempeli debu. Perabot rumah yang berantakan dan berdebu, menurut Budi, tidak hanya dapat menimbulkan gangguan atau alergi pernapasan, tetapi juga menyebabkan perasaan tidak betah di rumah.

Perabot atau dekorasi tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan rumah secara feng shui. Benda-benda seperti hewan mati yang diawetkan dan benda tajam seperti pedang atau samurai, dapat berefek negatif. “Segala sesuatu yang membawa aura kematian atau kekerasan, tidak baik disimpan di rumah. Sebab, ada kemungkinan dapat membawa sial,” ungkap Jenie. Dari sisi kesehatan, Budi mengatakan, pajangan seperti hewan mati yang diawetkan tak jarang masih menyisakan bahan kimia dari pengawetnya yang dapat membahayakan penghuni rumah.

Untuk mengalirkan energi positif ke dalam rumah, ada beberapa benda yang dapat diletakkan, terutama yang menyimbolkan kehidupan, seperti bunga-bunga segar atau akuarium dengan ikan-ikan hias. Untaian kristal yang dapat membiaskan cahaya matahari sangat baik digantungkan di jendela. “Bias sinar matahari dari kristal dapat melawan energi kotor. Tapi, kristalnya harus asli,” ujar Jenie.

Untuk menambah energi positif di kamar tidur ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Misalnya, dengan memasang soundsystem untuk memutar musik pembangkit mood (tidak termasuk televisi). Penataan cahaya yang tepat dapat menghasilkan energi positif dan mood baik. Idealnya, lampu memiliki dimmer switch, supaya terangnya dapat diatur sesuai kebutuhan. Terang ketika banyak aktivitas, remang-remang untuk bersantai.

Penulis: Primarita S. Smita

sumber: femina

L'amour n'est pas parce que mais malgre

Suatu ketika di India, hidup seorang pendeta dengan putrinya yg amat cantik.
Ia kebingungan karena adanya lamaran dr 3 orang pendeta muda, yg semuanya berkata akan bunuh diri kalau tidak bisa mempersunting putri pendeta itu.
Sebelum bisa memutuskan lamaran mana yang diterima, putri pendeta tiba2 meninggal dunia.
Ketiga pendeta muda menunjukkan perilaku yg berbeda dalam mensikapi kematian putri itu.
Pendeta 1
Duduk di atas tempat pembakaran mayat sang putri.
Ia membuat gubuk dan menetap di sana terus menerus.
Ia tidak mau meninggalkan tempat itu.
Tak berhenti ia melantunkan doa pujian untuk arwah sang putri.

Pendeta 2
Pergi ke Sungai Gangga untuk melaburkan tulang belulang dalam rangka menyempurnakan kematian sang putri.
Sesuai tradisi Hindu, seseorang melaburkan tulang belulang orang yg meninggal sebagai anda kecintaannya.
Pendeta 3
Pergi berkelana, sampai akhirnya menemukan sebuah kitab Suci yg bisa menghidupkan orang yg sudah mati.

Singkat cerita, dengan kitab suci yg ditemukan pendeta ke 3, sang putri hidup kembali.
Dan tambah bingung karena ke tiga pendeta merasa paling berhak menikahi putri itu.

Pendeta 1 berkata: "Sayalah yg menunggunya siang malam seraya melantunkan doa pujian untuknya"
Pendeta 2 : "Sayalah yg melaburkan tulang belulangnya di Gangga"
Pendeta 3 : "Sayalah yg menemukan kitab suci yg menghidupkannya kembali"
Pertanyaannya: "Siapakah diantara ketiga pendeta muda itu yg berhak jadi suami sang putri?"
Jawabannya:
Pendeta 3 : Karena telah menghidupkan putri itu kembali maka ia berada dalam posisi sebagai... BAPAK.
Pendeta 2 : Karena telah melaburkan tulang di Gangga, telah melakukan pengabdian. Karena itu dia lebih pantas menjadi ... ANAK.
Pendeta 1: Pendeta inilah yg lebih berhak menjadi SUAMI, karena ia terus menerus berada di tempat pembakaran mayat sang putri. Ia tetap mencintai putri itu "walaupun" sudah menjadi debu, "walaupun" ia tidak bisa lagi melihat senyuman sang putri, "walaupun" ia tidak bisa lagi mendengar suara gadis yg dicintainya itu. Ia tetap setia menunggu di tempat itu sampai kapan pun.

L'amour n'est pas parce que mais malgre" ....kata bule Perancis...
Cinta itu bukan "karena", tetapi "walaupun"
I love u no matter what..... not i love u because......
Cinta itu bukan apa yang dilihat tetapi apa yang dirasakan
Cinta itu bukan melupakan, tetapi memaafkan.

Sebuah Renungan Ahkir Tahun


Seorang pejabat keluar dari sebuah hotel mewah. Ia baru saja menyelenggarakan seminar dan malam amal untuk mencari dana bagi anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan. Ketika akan masuk ke mobil mewahnya, seorang anak jalanan mendekatinya dan merengek, ”Pak, minta uang sekadarnya. Sudah dua hari saya tidak makan.” Pejabat itu terkejut dan melompat menjauhi anak itu. ”Dasar anak keparat yang tak tahu diri!” teriaknya. ”Tak tahukah kamu bahwa sepanjang hari saya sudah bekerja sangat keras untukmu?

Pembaca yang budiman, kalau Anda ingin melakukan renungan di penghujung tahun ini, saya anjurkan Anda untuk merenungkan satu hal saja: ”Seberapa besar tingkat kepedulian Anda kepada sesama?” Dari skala 1 (sangat buruk) sampai dengan 5 (sangat baik), dimanakah posisi Anda? Jawabannya tak perlu Anda kemukakan, tapi cukup disimpan untuk diri Anda sendiri.

Mengapa saya menganjurkan Anda melakukan hal ini? Ini tak lain untuk kepentingan diri Anda sendiri. Selama Anda masih berkutat dengan diri sendiri, selama itu pula jiwa Anda tak akan pernah tumbuh. Kita hanya akan mengalami transformasi yang luar biasa begitu kita mulai memikirkan orang lain. Seorang pengarang, Joseph Campbell, mengatakan, ”Pada saat kita berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami perubahan hati nurani yang sungguh heroik.”

Hal ini mudah diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. Para politisi kita amat royal melontarkan kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Seorang pejabat yang mengaku paling dekat dengan wong cilik kenyataannya malah menyakiti hati rakyat dengan tanpa malu-malu menghadiahkan dirinya sendiri rumah senilai 20 miliar. Para politisi lain juga tanpa malu -malu berlomba-lomba meluncurkan buku biografi politik yang dipenuhi kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Buku-buku biografi semacam ini sebenarnya merupakan ”pelecehan intelektual” belaka. Kenyataannya, amat sulit bagi kita menemukan kontribusi mereka bagi orang banyak.

Memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman sekarang. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya. Namun sekadar memperhatikan diri Anda sendiri akan menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang. Anda akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual Anda. Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini adalah kewajiban. Mereka salah besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan Anda untuk menikmati hidup yang penuh makna. Memperhatikan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai hakikat kemanusiaan yang sejati.

Seorang filsuf terkemuka pernah mengatakan, ”Manusia dilahirkan dalam kondisi telanjang, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya itu keuntungan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya?” Sayangnya dunia kita sekarang telah begitu materialistisnya, sehingga banyak orang beranggapan bahwa perhatian tersebut bisa digantikan dengan uang. Padahal walaupun uang memang penting, ia tak akan pernah dapat menggantikan perhatian, pengertian, kehadiran dan kasih sayang.

Betapa banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu. Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang.

Kahlil Gibran pernah mengatakan, ”Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.” Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan perhatian sebenarnya jauh lebih berarti ketimbang memberikan materi yang sifatnya amat terbatas.

Cara menunjukkan kepedulian kita adalah dengan mendengarkan. Seorang anak pernah mengungkapkannya dengan sangat baik, ”Di masa pertumbuhanku, ayahku selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku begitu bersemangat menceritakan apa yang telah aku alami seharian.” Mendengarkan dengan benar adalah melupakan diri sendiri dan memberikan perhatian lahir dan batin yang tulus. Dengan mendengarkan kita dapat menangkap bukan hanya apa yang dikatakan tetapi juga apa yang dirasakan.

Mendengarkan amat penting untuk bisa memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan orang lain, bahkan sekalipun mereka tidak mengatakannya. Kahlil Gibran pernah mengatakan, ”Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.”

Sumber: Sebuah Renungan Akhir Tahun oleh Arvan Pradiansyah,
direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) dan pengarang buku Life is Beautiful


Read more: http://www.resensi.net/sebuah-renungan-akhir-tahun/2006/12/31/#ixzz13i5iFhA6

Kisah Tentang Penghargaan :: The Story of Appreciation

Kisah Tentang Penghargaan :: The Story of Appreciation


Seorang anak muda yang hebat sekali secara akademis datang ke sebuah perusahaan besar untuk melamar jabatan manajer. Ia lulus dalam wawancara pertama, dan Direktur perusahaan itu yang melakukan wawancara terakhir, membuat keputusan terakhir.

Direktur itu menemuka bahwa dari Riwayat Hidup anak muda ini, bahwa prestasi akademisnya sangat baik, dari sejak SMA hingga riset pasca sarjana selalu mencetak skor terbaik.

Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu mendapatkan beasiswa di sekolah?”

”Tidak,” jawab anak muda.

Direktur bertanya lagi, ”Apakah ayahmu yang membiayai sekolahmu?”

Anak muda itu menjawab, “Ayah saya meninggal ketika saya berumur satu tahun, ibu sayalah yang membiayai sekolah saya.”

Direktur bertanya,”Ibumu kerja dimana?”

Anak muda itu menjawab, ”Ibu saya bekerja sebagai tukang cuci pakaian.”

Direktur itu minta sang anak muda untuk memperlihatkan kedua tangannya. Anak muda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.

Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci pakaian sebelumnya?”

”Tidak pernah, ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca lebih banyak buku. Lagipula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dibandingkan saya.”

Direktur itu berkata, ”Saya punya satu permintaan. Kalau kamu pulang, temuilah ibumu dan cucilah kedua tangannya, dan kemudian temui saya esok hari.”

Anak muda itu merasa bahwa ada kemungkinan besar mendapatkan jabatan manajer di perusahaan itu. Ketika ia tiba di rumah, dengan senang hati anak muda itu meminta ibunya mengizinkan dia mencuci kedua tangannya. Ibunya merasa aneh, dengan senang dan  perasaan campur aduk, ia memperlihatkan kedua tangannya.

Anak muda itu mencuci kedua tangan ibunya dengan perlahan-lahan. Airmatanya mengalir ketika ia melakukannya. Itulah pertama kali ia memperhatikan bahwa kedua tangan ibunya sudah berkeriput, dan ada banyak luka di tangannya. Luka-luka itu begitu menyakitkan sehingga ibunya bergetar ketika kedua tangannya dicuci dengan air.

Inilah pertama kalinya anak muda itu menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang telah mencuci pakaian setiap hari demi membayar uang sekolahnya. Luka-luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya demi kelulusan anaknya, demi prestasi akademis yang terbaik dan demi masa depannya.

Setelah selesai mencuci kedua tangan ibunya, anak muda itu dengan diam-diam mencuci seluruh sisa pakaian bagi ibunya.

Malam itu, ibu dan anaknya mengobrol sangat lama.

Pagi berikutnya, anak muda itu datang lagi ke kantor Direktur itu.

Sang direktur melihat airmata berlinang di pelupuk mata anak muda itu, dan bertanya, ”Coba ceritakan apa yang kamu sudah lakukan dan pelajari kemarin di rumahmu.”

Anak muda itu menjawab, ”Saya mencuci tangan ibu saya, dan juga mencuci sisa pakaian baginya.”

Direktur bertanya, ”Tolong ceritakan bagaimana perasaanmu?”

Anak muda itu menjawab, ”Nomor 1, sekarang saya tahu apa artinya penghargaan. Tanpa bantuan ibu, saya tidak akan berhasil hari ini.
Nomor 2
dengan bekerja sama dan menolong ibu saya, saya sekarang menyadari betapa sulitnya dan betapa sukarnya menyelesaikan sesuatu.
Nomor 3
saya dapat menghargai pentingnya dan bernilainya hubungan keluarga.”

Direktur itu berkata,
”Inilah yang saya sedang cari untuk menjadi manajer di sini. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat menghargai pertolongan orang lain, seseorang yang tahu pergumulan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menaruh uang sebagai satu-satunya tujuan hidup. Kamu diterima bekerja di sini.

Beberapa waktu kemudian anak muda ini bekerja dengan sangat keras, dan dihargai anak buahnya. Setiap karyawan bekerja dengan rajin sebagai satu team. Kinerja perusahaan meningkat secara tajam.

Penutup

Seorang anak yang terlalu dilindungi dan terbiasa diberikan apa saja yang ia mau, akan mengembangkan mental yang suka menuntut haknya dan selalu akan mendahulukan dirinya alias egoistis. Ia akan tidak peduli akan segala jerih payah orangtuanya.

Ketika anak itu besar dan mulai bekerja, ia akan menganggap bahwa setiap orang harus mendengarkannya, dan ketika ia menjadi seorang manajer, ia tidak akan pernah tahu akan pergumulan anak buahnya dan selalu akan menyalahkan orang lain.

Untuk orang-orang seperti ini, yang mungkin baik secara akademis, mungkin mereka akan berhasil untuk sementara waktu, tetapi lambat laun tidak akan merasakan keberhasilan.

Dia akan bersungut-sungut dan penuh kebencian dan berkelahi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jika kita bertindak sebagai orang tua yang protektif, apakah kita sesungguhnya menunjukkan kasih atau malahan kita sedang menghancurkan anak?

Pelajaran

Anda dapat membesarkan anak dalam sebuah rumah besar, memberinya seorang sopir dan mobil untuk pergi kemana-mana, makan makanan enak, belajar main piano, menonton TV dengan layar lebar. Tetapi jika anda sedang memotong rumput, biarkan dia mengalaminya. Sehabis makan, biarlah mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama dengan kakak dan adiknya. Ajarkan mereka untuk pergi dengan bis umum.  

Itu bukan karena anda tidak punya uang untuk membeli mobil atau menggaji pembantu, tetapi karena anda ingin mengasihi mereka dengan cara yang benar. Anda ingin agar mereka mengerti, walaupun orangtua mereka kaya, suatu hari nanti rambut mereka akan memutih, sama seperti ibu dari anak muda dalam kisah di atas.

Hal yang paling penting adalah anak anda belajar menghargai jerih payah dan mengalami pergumulan dan kesulitan hidup dan melatih kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

taken from